Pernah Benci Sama Matematika? Bisa Jadi Bukan Kamu yang Salah

benci sama matematika

Jujur aja, kalau dengar kata matematika, reaksi banyak orang biasanya langsung sama: dahi berkerut, napas agak berat, dan dalam hati bilang, “Duh, jangan deh.” Bahkan sebelum soal muncul di papan tulis, rasa panik sudah datang duluan.

Padahal belum tentu soalnya susah. Tapi entah kenapa, otak seperti auto shutdown setiap ketemu angka.

Kalau kamu pernah ngerasa kayak gitu, tenang. Kamu nggak sendirian. Dan yang lebih penting, ini bukan semata-mata karena kamu “nggak pintar matematika”.

Ada penjelasan ilmiah di balik rasa benci dan takut terhadap matematika. Fenomena ini dikenal dengan istilah math anxiety, dan efeknya nyata, bukan sugesti doang.

Artikel ini bakal ngebahas kenapa banyak orang bisa benci matematika, dari sisi psikologis dan ilmiah, bagaimana pengalaman masa lalu dan lingkungan ikut berperan, sampai kenapa rasa percaya diri itu krusial banget saat berhadapan dengan angka.

Jadi, sebelum kamu menyalahkan diri sendiri, yuk pahami dulu apa yang sebenarnya terjadi di otakmu.

Baca juga: Mimpi Masuk Sekolah Kedinasan Bisa Gagal Karena Tinggi Badan?

Apa Itu Math Anxiety dan Kenapa Otak Bisa “Takut” Sama Angka?

Math anxiety adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas, takut, atau panik berlebihan saat berhadapan dengan matematika.

Rasa cemas ini bukan cuma muncul pas ujian, tapi bahkan saat melihat soal sederhana atau mendengar kata “matematika” saja.

Secara ilmiah, saat seseorang mengalami math anxiety, bagian otak yang berhubungan dengan rasa takut dan ancaman, seperti amigdala, jadi lebih aktif.

Di saat yang sama, bagian otak yang seharusnya dipakai buat berpikir logis dan memecahkan masalah malah terhambat. Akibatnya, kemampuan berpikir menurun, konsentrasi buyar, dan soal yang sebenarnya bisa dikerjakan jadi terasa super sulit.

Inilah kenapa banyak orang bilang, “Sebenernya aku paham materinya, tapi pas ujian blank.” Bukan karena ilmunya hilang, tapi karena otak keburu panik duluan.

Reaksi ini mirip kayak saat kita gugup ngomong di depan umum. Bedanya, pemicunya adalah angka dan rumus.

Yang bikin math anxiety makin tricky, rasa cemas ini bisa muncul sejak usia dini dan kebawa sampai dewasa kalau nggak disadari dan diatasi.

Akar Ketakutan Matematika: Pengalaman Buruk yang Nempel di Kepala

Salah satu penyebab paling umum kenapa seseorang benci matematika adalah pengalaman buruk di masa lalu. Bisa jadi kelihatannya sepele, tapi efeknya panjang.

Misalnya, pernah dimarahi guru di depan kelas karena salah jawab. Pernah diketawain teman saat nggak bisa ngerjain soal. Atau pernah dapet nilai jelek berturut-turut sampai akhirnya cap “nggak bisa matematika” nempel di kepala sendiri.

Pengalaman-pengalaman ini bikin otak mengasosiasikan matematika dengan rasa malu, takut, dan gagal. Lama-lama, setiap ketemu matematika, otak langsung mengingat emosi negatif itu, bahkan sebelum kita mencoba berpikir.

Yang lebih bahaya, banyak orang akhirnya berhenti mencoba. Bukan karena nggak mampu, tapi karena sudah terlanjur percaya kalau dirinya memang “bukan anak matematika”.

Padahal kemampuan itu bukan bawaan lahir semata, tapi hasil dari proses belajar dan latihan yang konsisten. Sekali pengalaman buruk ini tertanam, tanpa disadari kita jadi menghindar. Dan makin sering menghindar, makin jauh jarak kita dengan matematika.

Mitos yang Terlanjur Dipercaya: “Matematika Cuma Buat Orang Pintar”

Selain pengalaman buruk, mitos juga punya peran besar dalam membentuk hubungan kita dengan matematika. Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa matematika cuma bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu yang “otaknya encer”.

Padahal, secara ilmiah, kemampuan matematika itu bisa dilatih. Sama seperti belajar bahasa atau olahraga.

Baca juga: Kata Siapa Koas Itu Tidak Menyenangkan? Ini Cerita Sebenarnya

Tapi karena narasi yang sering kita dengar adalah “aku emang nggak berbakat”, akhirnya banyak orang menyerah bahkan sebelum benar-benar mencoba. Mitos lain yang nggak kalah merusak adalah anggapan kalau salah itu memalukan.

Di matematika, salah sering dianggap kegagalan, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, banyak siswa takut mencoba karena takut salah. Padahal justru dari kesalahan itulah pemahaman terbentuk.

Lingkungan yang penuh tekanan dan minim toleransi terhadap kesalahan bikin matematika terasa seperti musuh, bukan tantangan yang seru.

Peran Guru yang Sering Nggak Disadari, Tapi Dampaknya Besar

Guru punya pengaruh besar terhadap cara siswa memandang matematika, entah disadari atau tidak. Cara guru menjelaskan, bersikap, dan merespons kesalahan siswa bisa membentuk mindset jangka panjang.

Guru yang terlalu fokus pada kecepatan dan hasil akhir, tanpa memperhatikan proses, sering bikin siswa merasa tertinggal.

Apalagi kalau ada perbandingan antar siswa, seperti memuji yang cepat dan mengabaikan yang lambat. Tanpa niat buruk sekalipun, ini bisa menumbuhkan rasa rendah diri.

Sebaliknya, guru yang sabar, komunikatif, dan mau menjelaskan dari berbagai sudut pandang bisa mengubah matematika jadi lebih ramah. Sayangnya, nggak semua orang beruntung ketemu guru dengan pendekatan seperti ini.

Yang perlu dipahami, kalau kamu dulu nggak cocok dengan cara guru mengajar, itu bukan berarti kamu nggak bisa matematika. Bisa jadi kamu cuma belum nemu metode belajar yang pas.

Kenapa Percaya Diri Itu Penting Banget Saat Ngerjain Matematika?

Percaya diri bukan soal sok jago, tapi soal memberi kesempatan ke otak untuk bekerja optimal. Saat kamu percaya diri, tingkat kecemasan menurun, dan otak bisa mengakses kemampuan berpikir logis dengan lebih baik.

Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi cenderung punya performa matematika yang lebih baik, bahkan ketika kemampuan dasarnya sama dengan siswa lain. Artinya, mindset punya peran besar.

Saat kamu masuk ke soal dengan pikiran “aku bisa nyoba”, hasilnya akan beda dibanding masuk dengan pikiran “pasti salah”. Pikiran negatif bikin otak defensif, sedangkan pikiran positif bikin otak lebih terbuka.

Makanya, membangun kepercayaan diri itu penting banget. Mulai dari soal-soal kecil, pahami konsep pelan-pelan, dan hargai progres sekecil apa pun.

Baca juga: Rekomendasi Channel YouTube Edukasi yang Wajib Masuk Playlist

Mengubah Hubungan dengan Matematika Itu Mungkin, Asal Caranya Tepat

Kabar baiknya, math anxiety bukan kondisi permanen. Hubungan buruk dengan matematika bisa diperbaiki. Kuncinya ada di pendekatan belajar yang tepat dan lingkungan yang mendukung.

Belajar matematika nggak harus selalu kaku dan penuh tekanan. Dengan penjelasan yang runtut, latihan bertahap, dan pendamping yang sabar, matematika bisa jadi masuk akal, bahkan menyenangkan.

Yang penting, berhenti menyalahkan diri sendiri. Ketika kamu sadar bahwa rasa takut itu punya sebab ilmiah dan psikologis, kamu bisa mulai berdamai dengan proses belajar.

Matematika bukan soal seberapa cepat kamu paham, tapi seberapa konsisten kamu mencoba.

Saatnya Belajar Matematika Tanpa Takut dan Tanpa Tekanan

Kalau selama ini kamu merasa belajar matematika sendirian itu berat, wajar banget. Banyak orang butuh pendampingan supaya bisa pelan-pelan bangun pemahaman dan kepercayaan diri.

Sebagai solusi, Ultimate Privat hadir sebagai rekomendasi tempat les privat terbaik buat kamu yang pengen belajar matematika dengan cara yang lebih personal, santai, dan sesuai kebutuhan.

Di sini, proses belajar nggak cuma fokus ke nilai, tapi juga ke pemahaman konsep dan rasa percaya diri.

Dengan sistem les privat, kamu bisa belajar tanpa takut salah, bebas bertanya, dan dapat penjelasan yang disesuaikan dengan gaya belajarmu. Cocok buat siswa yang pernah trauma matematika, lagi persiapan ujian, atau sekadar pengen memperbaiki dasar.

Kalau kamu tertarik buat daftar atau masih punya pertanyaan seputar les privat di Ultimate Privat, langsung aja hubungi 0899-8702-889 (klik disini). Yuk, ubah matematika dari momok jadi tantangan yang bisa kamu taklukkan. Pelan-pelan aja, yang penting jalan.

Scroll to Top