5 Hal yang Dulu Gak Boleh Dilakukan Saat Pemerintahan Orde Baru!

pemerintahan Orde Baru

Kalau sekarang kita hidup di era media sosial yang bebas, bisa ngetik opini di Twitter, bikin video kritik di TikTok, atau baca buku apa saja tanpa takut dicurigai, itu tuh sebenarnya “privilege” yang dulu gak dimiliki banyak orang Indonesia, khususnya di zaman Orde Baru.

Periode ini berlangsung sejak 1966 sampai 1998, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada masa itu, stabilitas dan ketertiban dianggap yang paling utama. Tapi sebagai konsekuensinya, kebebasan masyarakat jadi super terbatas.

Banyak aturan yang mungkin kalau dipikir dengan kacamata hari ini tuh terasa aneh, ketat banget, bahkan terkesan sepele tapi dampaknya besar.

Dan menariknya, hal-hal yang dilarang itu bukan cuma urusan politik atau ekonomi, tapi sampai cara berpakaian, gaya rambut, sampai buku apa yang boleh dibaca pun ikut diatur.

Nah, biar lebih kebayang gimana suasana hidup di masa Orde Baru, yuk kita bahas lima hal yang dulu gak boleh dilakukan, tapi sekarang udah jadi hal biasa di kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Kenapa Benda Bisa Memuai? Ini Penjelasan Lengkapnya!

1. Rambut Gondrong Itu Dosa Besar? Serius!

Buat cowok zaman sekarang yang rambutnya panjang, gondrong aesthetic, ala musisi indie, atau gaya anak band, mungkin bakal kaget kalau tahu di masa Orde Baru rambut gondrong itu dianggap masalah serius.

Bahkan bukan cuma dianggap “gak sopan”, tapi bisa bikin seseorang kena razia dan dipaksa potong rambut di tempat. Pemerintah waktu itu mengaitkan rambut gondrong dengan kesan pemberontak, tidak berdisiplin, bahkan dianggap simbol perlawanan.

Padahal ya… banyak yang gondrong cuma karena gaya atau pengaruh musik rock yang lagi ngetren. Tapi ya lagi-lagi, Orde Baru sangat menekankan citra pemuda ideal yang rapi, patuh, disiplin, dan tidak terlihat “berbahaya”.

Banyak cerita dari masa itu tentang siswa dan mahasiswa yang dirazia aparat atau guru, disuruh potong rambut langsung di sekolah atau kantor polisi. Kebayang gak sih, cuma gara-gara rambut doang?

2. Mahasiswa Gak Boleh Terlalu Sibuk Politik

Mahasiswa itu kan identik dengan pemikiran kritis, idealis, dan suka turun ke lapangan buat menyuarakan pendapat. Tapi di masa Orde Baru, aktivitas politik mahasiswa dibatasi banget.

Pemerintah menganggap kampus harus jadi tempat belajar, bukan tempat gerakan politik. Makanya, lahirlah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) yang tujuannya “mensterilkan” kampus dari aktivitas politik.

Mahasiswa jadi dibatasi untuk melakukan demonstrasi, diskusi politik dianggap sensitif, bahkan kegiatan organisasi tertentu diawasi ketat. Padahal, di sejarah Indonesia sendiri mahasiswa punya peran besar dalam perubahan bangsa.

Tapi di era ini, suara mahasiswa dianggap mengganggu stabilitas. Jadi, kalau sekarang mahasiswa bebas bikin kajian, diskusi publik, debat terbuka, atau bahkan demo, itu adalah hal yang dulu gak mudah dilakukan.

3. Baca Buku Pramoedya dan Ribuan Buku Lainnya? Siap-Siap Dicurigai

Kalau kamu suka baca buku sastra, khususnya karya-karya Pramoedya Ananta Toer, mungkin sekarang bisa dengan santai membaca di rumah, perpustakaan, atau toko buku. Tapi di zaman Orde Baru? Wah, itu lain cerita.

Buku-buku karya Pramoedya sempat dilarang keras karena dianggap berbahaya dan bisa mempengaruhi cara berpikir masyarakat.

Baca juga: 4 Alasan Kenapa Kamu Perlu Join Ultimate Privat Buat SNBT

Bukan cuma karya Pramoedya saja, tapi ada sekitar dua ribu lebih judul buku yang ikut dibredel. Alasannya beragam, mulai dari dianggap berbau kiri, mengandung ajaran komunisme, sampai dinilai bisa membangkitkan kritik terhadap pemerintah.

Bayangin aja, membaca aja bisa bikin orang dicurigai. Padahal membaca adalah salah satu cara orang berkembang dan memperluas wawasan.

Larangan ini bikin masyarakat jadi takut mengakses informasi yang sebenarnya penting, dan inilah salah satu bentuk pembatasan intelektual terbesar di masa itu.

4. Gak Boleh Kritis Sama Pemerintah, Titik

Salah satu ciri paling jelas dari Orde Baru adalah terbatasnya kebebasan berpendapat. Kritik terhadap pemerintah dianggap sebagai ancaman keamanan dan stabilitas negara.

Media massa dikontrol ketat lewat sistem sensor, kebijakan pembredelan, dan pengawasan super ketat terhadap pemberitaan. Jurnalis gak bisa bebas menulis apa yang mereka mau.

Kalau ada media yang dianggap terlalu “berani”, izinnya bisa dicabut. Masyarakat pun jadi terbiasa diam, gak berani komentar sembarangan, bahkan ngobrol soal politik pun harus hati-hati karena takut dianggap melawan.

Bandingkan dengan sekarang. Orang bisa dengan mudah nyampaikan pendapat lewat media sosial. Ada kebebasan pers yang jauh lebih baik dibanding masa lalu. Walau tetap ada batas hukum, tapi setidaknya masyarakat punya ruang untuk bersuara.

5. Punya Tato? Siap-Siap Dicap Negatif

Sekarang tato itu udah jadi bagian dari seni, ekspresi diri, bahkan identitas. Banyak anak muda, musisi, atlet, sampai profesional yang punya tato tanpa masalah.

Tapi di masa Orde Baru, tato sering dikaitkan dengan kriminalitas. Orang bertato dianggap “berbahaya”, preman, atau gak bermoral.

Karena stigma ini, orang bertato bisa dapat perlakuan buruk, dicurigai, atau bahkan jadi sasaran operasi penertiban. Padahal gak semua orang bertato itu kriminal.

Tapi ya lagi-lagi, di masa itu yang dianggap ideal adalah masyarakat yang “seragam”, rapi, dan sesuai standar yang ditentukan penguasa.

Baca juga: Kalau Penemuan Sains Tak Pernah Ada, Kita Bakal Kayak Apa Sih?

Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Semua Ini?

Kelima hal tadi kelihatan sederhana, tapi sebenarnya menunjukkan betapa ketatnya kontrol pemerintah terhadap masyarakat pada masa Orde Baru.

Mulai dari gaya hidup, aktivitas mahasiswa, kebebasan membaca, sampai kebebasan berpendapat semuanya dipantau. Dari sini kita bisa belajar beberapa hal penting:

  1. Kebebasan itu mahal
    Apa yang kita nikmati sekarang, seperti kebebasan berekspresi, membaca, berpikir kritis, itu hasil dari proses panjang. Bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.
  2. Sejarah itu penting buat dipahami
    Biar kita gak gampang lupa dan gak mengulang kesalahan yang sama. Dengan belajar sejarah, kita bisa lebih bijak menilai kondisi saat ini.
  3. Setiap masa punya tantangannya sendiri
    Kalau dulu tantangannya adalah pembatasan, sekarang tantangannya bisa jadi penyalahgunaan kebebasan. Makanya, kebebasan juga harus dipakai dengan tanggung jawab.

Belajar sejarah bukan cuma soal hafal tahun dan nama tokoh, tapi memahami alur, dampak, dan pelajaran di baliknya. Dan topik Orde Baru ini termasuk salah satu bab yang menarik banget buat dibahas lebih dalam.

Butuh Bimbingan Belajar Sejarah yang Santai tapi Tetap Serius?

Kalau kamu pengin belajar sejarah dengan cara yang lebih ringan, gak bikin pusing, tapi tetap lengkap dan mudah dipahami, Ultimate Privat siap banget jadi partner belajarmu.

Di sini kamu bisa ambil les privat Sejarah dengan tutor yang friendly, sabar, dan paham cara menjelaskan materi biar gak ngebosenin. Cocok buat persiapan tugas sekolah, ujian, UTBK, atau sekadar pengin paham sejarah lebih dalam.

Belajar jadi lebih fokus karena sistemnya privat, materi disesuaikan dengan kebutuhanmu, dan jadwalnya fleksibel. Jadi gak bikin kamu kewalahan sama aktivitas lain.

Kalau kamu tertarik daftar atau masih punya pertanyaan, langsung aja hubungi nomor ini: 0899-8702-889 (klik disini). Yuk, upgrade kemampuan belajarmu dan bikin Sejarah jadi pelajaran yang seru, bukan cuma hafalan doang!

Scroll to Top